Tujuan dan Proses pendidikan
Tujuan Pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang
baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan
pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberi arah kepada segenap kegiatan
pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan
pendidikan. Sebagai suatu komponen pendidikan, tujuan pendidikan menduduki
posisi penting diantara komponen-komponen pendidikan lainnya. Dapat dikatakan
bahwa seluruh komponen dari seluruh kegiatan pendidikan dilakukan semata-mata
terarah kepada atau ditujukan untuk pencapaian tujuan tersebut.
Dengan demikian maka kegiatan-kegiatan yang tidak relevan
dengan tujuan tersebut dianggap menyimpang, tidak fungsional, bahkan salah,
sehingga harus dicegah terjadinya. Di sini terlihat bahwa tujuan pendidikan itu
bersifat normatif, yaitu mengandung unsur norma yang bersifat memaksa, tetapi
tidak bertentangan dengan hakikat perkembangan peserta didik serta dapat
diterima oleh masyarakat sebagai nilai hidup yang baik. Sehubungan dengan
fungsi tujuan yang sangat penting itu, maka suatu keharusan bagi pendidik untuk
memahaminya. Kekurangpahaman pendidik terhadap tujuan pendidikan dapat
mengakibatkan kesalahpahaman di dalam melaksanakan pendidikan. Gejala demikian
oleh Langeveld disebut salah teoritis (Umar Tirtarahardja dan La Sula, 37 :
2000).
Proses Pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap
komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan.
Bagaimana proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil
pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua
segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Kedua segi tersebut
satu sama lain saling tergantung. Walaupun komponen-komponennya cukup baik,
seperti tersedianya prasarana dan sarana serta biaya yang cukup, juga ditunjang
dengan pengelolaan yang andal maka pencapaian tujuan tidak akan tercapai secara
optimal. Demikian pula bila pengelolaan baik tetapi di dalam kondisi serba
kekurangan, akan mengakibatkan hasil yang tidak optimal.
Peran
Media Pembelajaran
Dunia pendidikan dewasa ini mengalami kemajuan yang sangat
pesat karena mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilandasi
dengan peningkatan iman dan taqwa. Kemajuan ini bertitik tolak dari pemakaian
High Technology (teknologi tinggi) berupa pemakaian perangkat ICT (Information
and Comunication of Technology/Teknologi dan Informasi Komunikasi).Pembaharuan pendidikan dan
pengajaran mengalami penyempurnaan baik dari segi kurikulum, metode maupun media
pengajaran yang bertujuan membentuk anak didik berkualitas, kreatif dan
dapat mengikuti perkembangan ICT.
Oleh sebab itu
untuk membantu siswa dan guru agar lebih memahami konsep-konsep fisika dalam
kehidupan sehari-hari, maka harus dibuat visualisasi materi melalui
mediakomputer yang berbasis ICT. Dengan penggunaan perangkat ICT ini diharapkan
dapat membantu memantapkan konsep fisika pada siswa dalam kegiatan belajar
mengajar, atau pun sebagai alat bantu pembelajaran siswa di rumah setelah suatu
topik diajarkan oleh guru di sekolah. Pada saat ini komputer sudah sangat
memasyarakat dan semua sekolah telah memiliki perangkat komputer, baik
digunakan untuk administrasi sekolah maupun untukmedia pembelajaran di kelas.
Dengan media komputer mempermudah guru dalam mengajarkan materi-materi yang
bersifat abstak dan membantu siswa dalam mempelajari materi tersebut. Penggunaan
media komputer dalam proses belajar-mengajar merupakan salah satu
alternatif guru untuk menyeragamkan media pengajaran sehingga merangsang siswa
dalam berpikir, perhatian, perasaan dan minat siswa untuk memungkinkan
terjadinya proses belajar-mengajar yang timbal balik antara guru dan siswa.
Adapun
peran media pembelajaran antara lain :
- Memperjelas penyajian materi agar tidak hanya bersifat verbal (dalam bentuk kata-kata tertulis atau tulisan)
- Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, karena menurut para ahli kemampuan daya serap manusia dalam memahami masalah dengan panca indera yaitu : 1) Telinga (pendengaran) 13%, 2) Mata (penglihatan) 75%, 3) Hidung (penciuman) 3%, 4) Kulit 6%, 5) Lidah (rasa) 3%
- Penggunaan media secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sifat pasif anak didik
- Menghindari kesalahpahaman terhadap suatu objek dan konsep
- Menghubungkan yang nyata dengan yang tidak nyata.
Kelemahan-kelemahan
yang ditemukan antara lain : tayangan terlalu cepat, mata cepat lelah, gambar
kurang tajam, waktu yang sedikit. Kelemahan ini diperbaiki dengan pengaturan
waktu penanyangan dan pengggunaan penampilan gambar yang lebih baik. Diharapkan dengan
adanya media pembelajaran ini dapat meningkatkan minat siswa untuk
mempelajari fisika maupun ilmu-ilmu lainnya yang terasa susah dipahami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar