Kamis, 05 Januari 2017

Peranan Kurikulum



Peranan Kurikulum

Kurikulum sebagai program pendidikan yang telah direncanakan mengemban peranan yang sangat penting bagi pendidikan. Apabila dianalisis secara sederhana, paling tidak terdapat tiga jenis peranan kurikulum yang dinilai sangat pokok, yaitu: Peranan Konservatif, Peranan Kreatif, Peranan kritis dan evaluative.
a.    Peranan Konservatif
Peranan konservatif menekankan bahwa kurikulum dapat diajadikan sebagai sarana untuk mentransmisikan niali-nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa kini kepada anak didik selaku generasi penerus.
Dengan demikian kurikulum bisa dikatakan konservatif karena mentransmisikan dan menafsirkan warisan social kepada anak didik atau generasi muda. Pada hakekatnya, pendidikan itu berfungsi untuk menjembatani antara siswa selaku peserta didik dengan orang dewasa didalam suatu proses pembudayaan yang semakin berkembang menjadi lebih kompleks. Dalam hal ini kurikulum menjadi sangat penting, serta turut membantu dalam proses tersebut.
b.   Peranan kreatif
Perkembangan ilmu pengetahuan dan aspek-aspek lainnya senantiasa terjadi setiap saat.Kurikulum melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dan konstruktif, dalam arti menekankan bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai dengan perkembangan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat pada masa sekarang dan masa mendatang. Kurikulum harus mengandung hal-hal yang dapat membantu setiap siswa mengembangkan semua potensi yang ada pada dirinya untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru, serta cara berpikir baru yang dibutuhkan dalam kehidupannya.
c.    Peranan Kritis dan Evaluative
Peranan ini dilatarbelakangi oleh adanya kenyataan bahwa niali-nilai dan budaya yang hidup dalam masyarakat senantiasa mengalami perubahan, sehingga pewarisan nilai-nilai dan budaya masa lalu kepada anak didik perlu disesuaikan dengan kondisi yang terjadi pada masa sekarang. Selai itu perkembangan yang terjadi masa sekarang dan masa mendatang belum tentu sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Oleh karena itu peranan kurikulum tidak hanya mewariskan nilai dan budaya yang ada atau menerapkan hasil perkembangan baru yang terjadi, melainkan juga memiliki peranan untul menilai dan memilih nilai dan budaya serta pengetahuan baru yang akan diwariskan tersebut. Dalam hal ini kurikulum harus turut aktif berpartisipasi dalam control atau filter social. Nilai-nilai social yang tidak sesuai lagi dengan keadaan dan tuntunan masa kini dihilangkan dan diadakan modifikasi atau penyempurnaan-penyempurnaan.

Karateristik Belajar Anak Usia Sekolah Dasar



Karateristik Belajar Anak Usia Sekolah Dasar
Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut, anak mulai menunjukan perilaku belajar sebagai berikut: 1) mulai memandangdunia secara objektif, berdasar dari satu aspek situasi keaspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak. 2) mulai berfikir secara operasional. 3) mempergunakan cara berfikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda. 4) membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan. 5) memahami konsep subtsansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu sebagai berikut:
1.      Konkret
Konkret mengandung makna proses belajar beranjank dari hal-hal yang konkret, yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.
2.      Integrative
Pada tahap usia sekolah dasar, anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan.
3.      Hierarkis
Cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks.
Adapun karakteristik pebelajaran yang perlu dilakukan terhadap anak-anak tersebut dengan menggunakan hal berikut:
a.       Belajar dan Pembelajaran Bermakna
b.      Pembelajaran Tematik
Ada delapan belas (18) kiat atau cara yang dapat digunakan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
1.      Gunakan metode dan kegiatan yang bervariasi
2.      Jadikan siswa peserta aktif
3.      Buatlaj tugas yang menantang namun realistis dan sesuai
4.      Ciptakan suasana kelas yang kondusif
5.      Berikan tugas secara proporsional
6.      Libatkan diri untuk membantu siswa mencapai hasil
7.      Berikan petunjuk pada para siswa agar sukses dalam belajar
8.      Hindari kompetisi antarpribadi
9.      Berikan masukan
10.  Hargai kesuksesan dan keteladanan
11.  Antusias dalam mengajar
12.  Tentukan standar yang tinggi bagi seluruh siswa
13.  Pemberian penghargaan untuk memotivasi
14.  Ciptakan aktifitas yang melibatkan seluruh siswa dalam kelas
15.  Kenali minat siswa-siswa
16.  Peduli dengan siswa-siswa
17.  Hindari penggunaan ancaman
18.  Hindari komentar buruk

Implikasi Perkembangan Konsep Diri terhadap Pendidikan



Implikasi Perkembangan Konsep Diri terhadap Pendidikan
Berikut ini beberapa stategi yang mungkin dilakukan guru dalam mengembangkan dan meningkatkan konsep diri peserta didik:
1.      Membuat siswa merasa mendapat dukungan dari guru.
2.      Membuat siswa merasa bertanggung jawab
3.      Membuat siswa merasa mampu
4.      Mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan yang realistis
5.      Membantu siswa menilai diri mereka secara realistis
6.      Mendorong siswa agar bangga dengan dirinya secara realistis
Dalam pembicaraan mengenai karakteristik individu peserta didik ini, ada tiga hak berikut yang perlu diperhatikan:
a.       Karakteristik yang berkenanan dengan kemampuan awal seperti kemempuan intelektual, kemempuan berfikir dan hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikomotor
b.      Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosio-kultural
c.       Karakteristik yang berkenanan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian, seperti sikap, perasaan, minat, dan lain-lain

Pengembangan Konsep Diri Dan Harga Diri Peserta Didik



Pengembangan Konsep Diri Dan Harga Diri Peserta Didik
Menurut Burns (1982), konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakianan tentang diri sendiri. Sedangkan Pemily (1986), mendefinisikan konsep diri sebagai sistem yang dinamis dan kompleks dari keyakinan yang dimiliki seseorang tentang dirinya, termasuk sikap, perasaan, persepsi, nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari individu tersebut.

  •   Konsep Diri dan Harga Diri

Konsep diri adalah bagaimana cara pandang individu dalam menghadapi pembelajaran disekolah. Dengan hal itu maka konsep diri sangat mempengaruhi dalam evaluasi hasil belajar.Para ahli pun berbeda pendapat dalam menetapkan dimensi-dimensi konsep diri.Namun, secara umum para ahli menyebutkan 3 dimensi diri, meskipun menggunakan istilah yang berbeda. Calhoun dan Acocella (1990), misalnya, menyebutkan 3 dimensi utama dari konsep diri berikut ini:
a.       Pengetahuan
Dimensi pengetahuan (kognitif) dari konsep diri mencangkup segala sesuatu yang kita pikirkan tentang diri kita sebagai pribadi.
b.      Harapan
Harapan atau cita-cita juga akan membangkitkan kekuatan yang mendorong kita menuju masa depan dan akan membantu aktivitas kita dalam perjalanan hidup kita.
c.       Penilaian
dimensi ketiga konsep diri adalah peneilaian kita terhadap diri sendiri.

  •   Konsep Diri dalam Prestasi Belajar

Sejumlah ahli psikologi dan pendidikan berkeyakinan bahwa konsep diri dan prestasi belajar mempunyai hubungan yang erat. Walsh (1982), juga menunjukan bahwa siswa-siswi mempunyai konsep yang negative, serta memperlihatkan beberapa karakterisktik kepribadian, 1) mempunyai perasaan dikritik, ditolak dan di isolir, 2) melakukan mekanisme pertahanan diri dengan menghindar, 3) tidak mampu mengekspresikan perasaan dan perilakunya.