Model dan Pembelajaran Keterampilan Saling Berbagi
Model pembelajaran yang ditujukan untuk
meningkatkan keterampilan social pada dasarnya mengarah pada pemenuhan
kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk social, tidak dapat hidup sendiri,
saling membutuhkan dan saling tergantung satu terhadap lainnya yang bisa
dilakukan melalui seting pembelajaran kelompok, seperti pendapat Sja’roni
(2008) bahwa dalam pembelajaran berbasis kelompok, terdapat unsure latihan
keterampilan saling berbagi.
Ibrahim, dkk (2000:18) mengemukakan bahwa
partisipasi aktif dalam kelompok kecil mmbantu siswa belajar keterampilan
social yang penting disamping secara bersamaan mengembangkan sikaf demokratis
dan keterampilan berfikir logis. Dua pendapat diatas menunjukanbahwa
keterampilan social khususnya keterampilan saling berbagi dapat dikembangkan
melalui pembelajaran berbasis pengalaman dalam seting kelompok. Beberapa model
pembelajaran yang relevan untuk menunjang tumbuhnya keterampilan saling berbagi
bada siswa/peserta didik kita:
1. Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu upaya pendidikan untuk
mengembangkan jiwa homo homini socius, menekankan pada hakikat manisia sebagai
makhluk social yang tidak bisa hidup sendiri, membutukan pertolongan orang lain
sehingga manusia perlu memiliki kemampuan bekerjasama dan keterampilan saling
berbagi karena memiliki arti yang sangat penting untuk kelangsungan hidupnya.
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang dilakukan melalui
penggunaan kelompok kecil dimana para siswa bekerja sama dan saling berbagi
untuk memaksimalkan belajarnya (secara pribadi) dan belajar diantara anggota
kelompok tersebut.
Siswa dibagi dalam kelompok kecil antara empat sampai enam orang
yang heterogen dari segi kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, untuk saling
membantudalam memperoleh pemahaman terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
Siswa diajak untuk terlibat secara aktif dalam belajar dengan mengerahkan
seluruh kemampuannya, didalam hal ini guru mungkin akan mengalami kesulitan
dalam mengelompokan siswa, karena siswa cenderung ingin berkelompok dengan
orang-orang yang dikenalnya. Seperti pendapat Scott Gordon (Lie,2004:41) pada
dasarnya manusia senang berkumpul dengan yang sepadan dan membuat jarak dengan
yang berbeda. Namun, pengelompokan dengan orang lain Yang yang sepadan dan
serupa ini bisa menghilangkan kesempatan anggota kelompoknya untuk memperluas
wawasan dan memperkaya diri, karena dalam kelompok homogeny tidak terdapat
banyak perbedaan yang bisa mengasah proses berpikir, bernegoisasi, dan
berkembang. Jadi melalui pengelompokan kecil tetapi memiliki perbedaan dari
segi kemampuan ini akan membentuk keterampilan social pada siswa khususnya
dalam pengembangan keterampilan saling berbagi, dimana setiap siswa akan
berbagi pengetahuan satu sama lain yaitu belajar sambil mengajar.
Pembelajaran kooperatip memang meningkatkan kontak di antara para
siswa, memberikan mereka dasar untuk saling berbagi kesamaan (keanggotaan
kelompok), melibatkan mereka dalam kegiatan bersama yang menyenangkan, dan
membuat mereka bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama (Slavin. 2008: 134). Pembelajaran
kooperatif disusun sebagai usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, dan
keterampilan saling berbagi pada siswa, mengembangkan sikap kepemimpinan serta
memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi serta belajar bersama
dengan siswa lain yang berbeda untuk menumbuhkan keterampilan saling berbagi
pada siswa pada siswa lainnya ataupun pada sesame setelah ia terjun
kelingkungan yang lebih luas lagi. yang harus dikembangkan sebagai bekal dalam
melakukan interaksi dan kerjasama dalam kehidupan, baik dilingkungan masyarakat
maupun didunia kerja kelak.
2. Model Pembelajaran di Luar Kelas
Seorang guru dapat memanfaatkan lingkungan sebagai media dalam
mengajar anak didiknya, lalu bagaimana, dan pembelajaran seperti apa yang dapat
merangsang keterampilan saling berbagi pada anak didiknya. Seorang guru dapat
melakukan banyak hal dilingkungan misalnya melakukan acara kemping/pramuka,
kegiatan ini dapat merangsang keterampilan mereka khususnya saling berbagi,
disadari atau tidak mereka akan melakukan keterampilan itu, seperti berbagi
makanan, berbagi sesuatu yang mungkin temannya tidak mempunyai.
3. Pengajaran Nilai Pada Siswa
Nilai menurut Mulyana (2004:11), adalah rujukan dan keyakinan dalam
menentukan pilihan. Nilai merupakan sesuatu yang diinginkan sehingga melahirkan
tindakan pada diri seseorang. Menurut Frankel (Kartawisastra, 1980:1) nilai
adalah standar tingkah laku, keindahan, keadilan, kebenaran, dan efisiensi yang
mengikat manusia dan sepatutnya untuk dijalankan dan dipertahankan.
Nilai merupakan fondasi penting dalam menentukan karakter suatu
masyarakat dan suatu bangsa. Nilai tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi melalui
proses penyebaran dan penyadaran, yang salah satunya adalah pendidikan di
sekolah. Pendidikan nilai menurut Mulyana (2004:119) adalah pengajaran atau
bimbingan kepada peserta didik agar menyadari kebenaran, kebaikan, dan
keindahan melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan bertindak
yang konsisten.
Pendidikan nilai dimaksudkan untuk membantu peserta didik agar
memahami, menyadari, dan mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannya
secara integral dalam kehidupan. Jadi melalui pendidikan nilai ini seorang guru
bisa memasukkan keterampilan-keterampilan sosial khususnya keterampilan saling
berbagi. Karena nilai merupakan kumpulan sikap perasaan ataupun anggapan
terhadap sesuatu hal mengenal baik-buruk, benar-salah, mulia-hina, maupun penting
tidak penting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar