Selasa, 03 Januari 2017

Model dan Pembelajaran Keterampilan Saling Berbagi



Model dan Pembelajaran Keterampilan Saling Berbagi
Model pembelajaran yang ditujukan untuk meningkatkan keterampilan social pada dasarnya mengarah pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk social, tidak dapat hidup sendiri, saling membutuhkan dan saling tergantung satu terhadap lainnya yang bisa dilakukan melalui seting pembelajaran kelompok, seperti pendapat Sja’roni (2008) bahwa dalam pembelajaran berbasis kelompok, terdapat unsure latihan keterampilan saling berbagi.
Ibrahim, dkk (2000:18) mengemukakan bahwa partisipasi aktif dalam kelompok kecil mmbantu siswa belajar keterampilan social yang penting disamping secara bersamaan mengembangkan sikaf demokratis dan keterampilan berfikir logis. Dua pendapat diatas menunjukanbahwa keterampilan social khususnya keterampilan saling berbagi dapat dikembangkan melalui pembelajaran berbasis pengalaman dalam seting kelompok. Beberapa model pembelajaran yang relevan untuk menunjang tumbuhnya keterampilan saling berbagi bada siswa/peserta didik kita:
1.      Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu upaya pendidikan untuk mengembangkan jiwa homo homini socius, menekankan pada hakikat manisia sebagai makhluk social yang tidak bisa hidup sendiri, membutukan pertolongan orang lain sehingga manusia perlu memiliki kemampuan bekerjasama dan keterampilan saling berbagi karena memiliki arti yang sangat penting untuk kelangsungan hidupnya. Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang dilakukan melalui penggunaan kelompok kecil dimana para siswa bekerja sama dan saling berbagi untuk memaksimalkan belajarnya (secara pribadi) dan belajar diantara anggota kelompok tersebut.
Siswa dibagi dalam kelompok kecil antara empat sampai enam orang yang heterogen dari segi kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, untuk saling membantudalam memperoleh pemahaman terhadap materi yang disampaikan oleh guru. Siswa diajak untuk terlibat secara aktif dalam belajar dengan mengerahkan seluruh kemampuannya, didalam hal ini guru mungkin akan mengalami kesulitan dalam mengelompokan siswa, karena siswa cenderung ingin berkelompok dengan orang-orang yang dikenalnya. Seperti pendapat Scott Gordon (Lie,2004:41) pada dasarnya manusia senang berkumpul dengan yang sepadan dan membuat jarak dengan yang berbeda. Namun, pengelompokan dengan orang lain Yang yang sepadan dan serupa ini bisa menghilangkan kesempatan anggota kelompoknya untuk memperluas wawasan dan memperkaya diri, karena dalam kelompok homogeny tidak terdapat banyak perbedaan yang bisa mengasah proses berpikir, bernegoisasi, dan berkembang. Jadi melalui pengelompokan kecil tetapi memiliki perbedaan dari segi kemampuan ini akan membentuk keterampilan social pada siswa khususnya dalam pengembangan keterampilan saling berbagi, dimana setiap siswa akan berbagi pengetahuan satu sama lain yaitu belajar sambil mengajar.
Pembelajaran kooperatip memang meningkatkan kontak di antara para siswa, memberikan mereka dasar untuk saling berbagi kesamaan (keanggotaan kelompok), melibatkan mereka dalam kegiatan bersama yang menyenangkan, dan membuat mereka bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama (Slavin. 2008: 134). Pembelajaran kooperatif disusun sebagai usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, dan keterampilan saling berbagi pada siswa, mengembangkan sikap kepemimpinan serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi serta belajar bersama dengan siswa lain yang berbeda untuk menumbuhkan keterampilan saling berbagi pada siswa pada siswa lainnya ataupun pada sesame setelah ia terjun kelingkungan yang lebih luas lagi. yang harus dikembangkan sebagai bekal dalam melakukan interaksi dan kerjasama dalam kehidupan, baik dilingkungan masyarakat maupun didunia kerja kelak.
2.      Model Pembelajaran di Luar Kelas
Seorang guru dapat memanfaatkan lingkungan sebagai media dalam mengajar anak didiknya, lalu bagaimana, dan pembelajaran seperti apa yang dapat merangsang keterampilan saling berbagi pada anak didiknya. Seorang guru dapat melakukan banyak hal dilingkungan misalnya melakukan acara kemping/pramuka, kegiatan ini dapat merangsang keterampilan mereka khususnya saling berbagi, disadari atau tidak mereka akan melakukan keterampilan itu, seperti berbagi makanan, berbagi sesuatu yang mungkin temannya tidak mempunyai.
3.       Pengajaran Nilai Pada Siswa
Nilai menurut Mulyana (2004:11), adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan. Nilai merupakan sesuatu yang diinginkan sehingga melahirkan tindakan pada diri seseorang. Menurut Frankel (Kartawisastra, 1980:1) nilai adalah standar tingkah laku, keindahan, keadilan, kebenaran, dan efisiensi yang mengikat manusia dan sepatutnya untuk dijalankan dan dipertahankan.
Nilai merupakan fondasi penting dalam menentukan karakter suatu masyarakat dan suatu bangsa. Nilai tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi melalui proses penyebaran dan penyadaran, yang salah satunya adalah pendidikan di sekolah. Pendidikan nilai menurut Mulyana (2004:119) adalah pengajaran atau bimbingan kepada peserta didik agar menyadari kebenaran, kebaikan, dan keindahan melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan bertindak yang konsisten.
Pendidikan nilai dimaksudkan untuk membantu peserta didik agar memahami, menyadari, dan mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannya secara integral dalam kehidupan. Jadi melalui pendidikan nilai ini seorang guru bisa memasukkan keterampilan-keterampilan sosial khususnya keterampilan saling berbagi. Karena nilai merupakan kumpulan sikap perasaan ataupun anggapan terhadap sesuatu hal mengenal baik-buruk, benar-salah, mulia-hina, maupun penting tidak penting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar