Anak Merokok Siapa yang Salah!
Masih segar di
ingatan, bocah bernama Sandi yang sempat menjadi perbincangan banyak orang
akibat kebiasaan yang tidak lazim di usianya yaitu merokok. Dalam video yang
banyak beredar di dunia maya, memperlihatkan jika cara merokok Sandi sudah
seperti orang dewasa. Ketika melihat video tersebut, muncul beberapa
pertanyaan, bagaimana Sandi bisa mendapatkan rokok ?, apakah orang tuanya
membiarkannya ?
Sudah biasa kita
melihat sekelompok anak muda baik itu anak sekolah ataupun yang tidak
berseragam sekolah, beberapa di antara mereka pasti merokok. Yang lebih parah,
anak-anak SD dan SMP sudah banyak yang menghisap tembakau ini. Faktor yang
menyebabkan hal ini mungkin hanya hal yang sepele. Mungkin saja berawal dari
orang tua yang sering menyuruh anaknya untuk membelikannya rokok, kemudian anak
itu bertanya-tanya mengapa orang tuanya itu suka sekali mengonsumsi rokok.
Padahal seorang anak biasanya senang meniru tingkah laku orangtua nya.
Menurut Direktur
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Kemenkes
RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama SpP(K), lebih dari sepertiga pelajar
dilaporkan biasa merokok, dan ada 3 di antara 10 pelajar menyatakan pertama
kali merokok pada umur di bawah 10 tahun (The Global Youth Tobacco Survey,
2006). The Global Youth Tobacco Survey
(2006) di Indonesia 64.2% anak-anak sekolah yang disurvei melaporkan terpapar
asap rokok selama mereka di rumah atau menjadi second hand smoke (SHS). Lebih dari 43 juta anak
Indonesia tinggal dengan perokok di rumah. Global Youth Tobacco Survey (2006) melaporkan 89% anak-anak usia
13-15 tahun terpapar SHS di tempat-tempat umum. Anak-anak yang terpapar SHS
mengalami penurunan pertumbuhan paru, mudah terinfeksi saluran pernafasan dan
telinga, dan asma.
Melihat data di
atas, terlihat jika keluarga mempunyai peran penting mengenai kebiasaan seorang
anak yang merokok. Dari kebiasaan di rumah tentunya akan menjadi kebiasaan di
luar rumah. Belum lagi pengawasan orang tua yang tidak bisa penuh selama 24 jam
menambah kemungkinan anak di bawah umur untuk merokok. Faktor lingkungan juga
mempengaruhi hal ini. Lingkungan sekolah dan bermain anak-anak juga harus
diperhatikan. Tidak jarang seorang guru merokok di depan siswa-siswanya ketika
jam istirahat ataupun pulang sekolah. Hal ini juga menjadi pemicu rasa
keingintahuan anak untuk merokok. Melihat hal itu, mungkin peraturan batas
minimal usia perokok harus lebih diperhatikan. Pembatasan berupa larangan
mengonsumsi dan membeli rokok oleh anak di bawah usia 18 tahun sudah sering
kita lihat di iklan media massa. Namun yang terjadi di lapangan bertolak
belakang dengan iklan tersebut. Para pedagang rokok seolah-olah tidak
mempedulikan peraturan tersebut. Anak-anak dibuat mudah mendapatkan rokok.
Mudahnya anak-anak memperoleh rokok, tentunya akan memberi pengaruh terhadap
lingkungan kepada anak yang tidak merokok.
Dalam hal ini
pemerintah memang memegang peran besar. Jika pemerintah lebih tegas dalam
peraturan bukan tidak mungkin angka perokok di Indonesia akan jauh menurun. Namun
untuk mencapai hal itu pemerintah akan menemui batu yang besar, antara lain,
para produsen rokok akan melakukan protes besar, karena mengingat keuntungan
mereka akan berkurang secara drastis, dengan berkurangnya keuntungan mereka
maka nasib buruh rokok menjadi tanda tanya, bagaimana nasib para petani
tembakau. Kebanyakan perokok sebenarnya menyadari bahaya rokok tapi mungkin
karena terlambat menyadari sehingga mereka sudah terlanjur tercandu oleh itu,
dan tidak ada niat yang kuat berhenti. Terlambat sadarnya karena mungkin awal
ia mulai mengonsumsi rokok itu waktu kecil dan ia belum tahu apa-apa tentang
bahaya rokok, dan ketika ia tahu sudah terlambat dan dalam benaknya sudah
tertanam sulit untuknya lepas dari rokok. Tapi keinginan berbagai pihak untuk mengurangi
jumlah perokok tidak akan terwujud tanpa kerjasama dari berbagai pihak. Entah
itu itu dari orang tua, para distributor rokok dalam arti para penjual rokok,
dan pemerintah. Karena apa bila tidak ada kerja sama dari pihak-pihak itu
mustahil akan tercapai semua itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar