Menikmati Kritik dan Celaan
Baik buruknya hati
seseorang akan tampak jelas pada saat dirinya ditimpa kritik, celaan atau
penghinaan orang lain. Bagi orang yg lemah akal dan imannya, niscaya akan
mudah goyah & resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dgn memboroskan
waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dengan cara
mengorek-ngorek aib lawannya atau mencari dalih dalih untuk membela diri,
yg ternyata ujung dari perbuatannya tsb hanya akan membuat dirinya semakin
tenggelam dalam kesengsaraan bathin dan kegelisahan. Lain halnya dengan orang
yang memiliki kejernihan hati dan ketinggian akhlak. Ketika datang badai
kritik, celaan serta penghinaan seberat atau sedahsyat apapun, dia tetap
tegar tak goyah sedikitpun. Malah ia menikmatinya karena yakin bahwa
semua musibah yang menimpa semata-mata terjadi dengan seijin Allah SWT.
Allah tahu
persis segala aib dan cela hamba-Nya dan Dia berkenan memberitahunya
dengan cara apa saja dan melalui siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Terkadang berbentuk nasihat yg halus, adakalanya lewat obrolan dan
guyonan seorang teman, bahkan tak jarang berupa cacian teramat pedas dan
menyakitkan. Ia pun bisa muncul melalui lisan seorang guru, ulama, orang
tua, adik atau siapa saja. Jadi mengapa kita harus merepotkan diri membalas
orang-orang yg menjadi jalan keuntungan bagi kita? padahal seharusnya
kita bersyukur dengan sebesar-besar syukur karena mereka sudi meluangkan
waktu memberitahukan segala kejelekan dan aib yang mengancam amal-amal shaleh
kita di akhirat kelak. Karenanya, jangan aneh jika kita saksikan orang-orang
mulia dan ulama yang saleh ketika dihina dan dicaci, sama sekali tidak
menunjukkan perasaan sakit hati dan keresahan.Sebaliknya mereka bersikap penuh
kemuliaan dengan berterima kasih atas pemberitahuan ihwal aib yang justeru
tidak sempat terlihat oleh diri sendiri.
Sudah
seharusnya kita senantiasa waspada terhadap pemberitahuan dari Allah yang
setiap saat bisa datang dengan berbagai bentuk. Allah SWT berfirman :”Dan
janganlah engkau berduka cita karena perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan
itu bagi Allah semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS Yunus
(10):65). Manusia memang sering lupa bahwa qudrah dan iradah Allah itu berada
diatas segalanya, sehingga menjadi sombong dan takabur, seakan-akan dunia dan
isinya ini berada dalam genggaman tangannya. Na’udzubillah. Timbulnya keresahan
didalam hati, pembelaan diri atau keinginan membalas menyakiti adalah
karena pikiran kita terlampau terfokus pada makhluk. Padahal mereka hanyalah
jalan bagi sampainya pemberitahuan Allah kepada kita. Nah semoga Allah
senantiasa memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat melakukan semua ini
karena mau tidak mau kejadian itu akan datang juga menimpa diri kita
suatu saat nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar