Sabtu, 31 Desember 2016

Menikmati Kritik dan Celaan

Menikmati Kritik dan Celaan
Baik buruknya hati seseorang akan tampak jelas pada saat dirinya ditimpa kritik, celaan atau penghinaan orang lain.  Bagi orang yg lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah & resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dgn memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dengan cara  mengorek-ngorek aib lawannya atau mencari dalih dalih untuk membela diri, yg ternyata ujung dari perbuatannya tsb hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesengsaraan bathin dan kegelisahan. Lain halnya dengan orang yang memiliki kejernihan hati dan ketinggian  akhlak. Ketika datang badai kritik, celaan serta penghinaan seberat  atau sedahsyat apapun, dia tetap tegar tak goyah sedikitpun. Malah ia  menikmatinya karena yakin bahwa semua musibah yang menimpa semata-mata  terjadi dengan seijin Allah SWT.
Allah tahu persis segala aib dan cela hamba-Nya dan Dia berkenan  memberitahunya dengan cara apa saja dan melalui siapa saja yang  dikehendaki-Nya. Terkadang berbentuk nasihat yg halus, adakalanya lewat  obrolan dan guyonan seorang teman, bahkan tak jarang berupa cacian teramat  pedas dan menyakitkan. Ia pun bisa muncul melalui lisan seorang guru, ulama,  orang tua, adik atau siapa saja. Jadi mengapa kita harus merepotkan diri membalas orang-orang yg menjadi  jalan keuntungan bagi kita? padahal seharusnya kita bersyukur dengan  sebesar-besar syukur karena mereka sudi meluangkan waktu memberitahukan segala kejelekan dan aib yang mengancam amal-amal shaleh kita di akhirat kelak. Karenanya, jangan aneh jika kita saksikan orang-orang mulia dan ulama  yang saleh ketika dihina dan dicaci, sama sekali tidak menunjukkan perasaan sakit hati dan keresahan.Sebaliknya mereka bersikap penuh kemuliaan dengan berterima kasih atas pemberitahuan ihwal aib yang justeru tidak sempat terlihat oleh diri sendiri.

Sudah seharusnya kita senantiasa waspada  terhadap pemberitahuan dari Allah yang setiap saat bisa datang dengan  berbagai bentuk. Allah SWT berfirman :”Dan janganlah engkau berduka cita karena perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi Allah semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS Yunus (10):65). Manusia memang sering lupa bahwa qudrah dan iradah Allah itu berada diatas segalanya, sehingga menjadi sombong dan takabur, seakan-akan dunia dan isinya ini berada dalam genggaman tangannya. Na’udzubillah. Timbulnya keresahan didalam hati, pembelaan diri atau keinginan membalas  menyakiti adalah karena pikiran kita terlampau terfokus pada makhluk. Padahal mereka hanyalah jalan bagi sampainya pemberitahuan Allah kepada  kita. Nah semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat melakukan semua ini karena mau tidak mau kejadian itu akan datang  juga menimpa diri kita suatu saat nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar